EHERAN — Utusan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, Abdul Majid Hakim Elahi, mengatakan, saat ini negaranya menerapkan kontrol ketat atas Selat Hormuz. Namun, kata dia, Mojtaba menjamin, setelah perang dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel usai, Iran bakal membuka kembali selat tersebut.
“Karena perang belum selesai, Iran memiliki kendali yang kuat atasnya (Selat Hormuz). Tapi saya yakin, setelah perang, selat itu akan dibuka, dan negara-negara akan mendapat manfaat darinya,” ungkap Elahi saat diwawancara kantor berita Rusia, TASS, Jumat (10/4/2026).
Dia menekankan, Iran tak menghendaki munculnya krisis di dunia akibat Selat Hormuz. “Iran tidak ingin menimbulkan konflik, krisis, bagi dunia karena Selat Hormuz. Kami ingin memiliki hubungan yang baik, dan lebih dari itu, persahabatan, dengan semua negara,” ujarnya.
Iran dan AS telah menyepakati gencatan senjata selama dua pekan pada Selasa (7/4/2026). Kesepakatan itu tercapai melalui mediasi yang ditengahi oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.
Lewat kesepakatan tersebut, AS setuju menghentikan serangannya terhadap Iran. Sebagai gantinya, Iran harus membuka akses Selat Hormuz. Keputusan Teheran membatasi secara ketat lalu lintas kapal di selat tersebut telah melambungkan harga minyak dunia.
Iran setuju untuk membuka Selat Hormuz selama masa gencatan senjata. Namun lalu lintas kapal di perairan tersebut tetap harus dikoordinasikan oleh militer Iran.
Iran turut mengajukan 10 poin proposal gencatan senjata kepada AS. Isinya antara lain pencabutan sanksi dan pelepasan dana serta aset milik Iran yang dibekukan AS, pembayaran penuh kompensasi untuk biaya rekonstruksi akibat perang, dan penghentian total serangan, tidak hanya ke Iran, tapi juga Irak, Lebanon, serta Yaman.
Menurut Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, kesepakatan gencatan turut berlaku di Lebanon yang saat ini menjadi target agresi Israel. Namun Israel menolak hal tersebut dan masih terus melancarkan serangan ke Lebanon.
Pada Rabu (8/4/2026) lalu, Israel diketahui melancarkan serangan udara brutal ke sejumlah wilayah Lebanon, termasuk Beirut. Lebih dari 250 orang dilaporkan terbunuh akibat serangan Israel.
Keputusan Tel Aviv terus menggempur Lebanon telah melemahkan kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan AS. Presiden AS Donald Trump pun telah menuding Iran belum melaksanakan sepenuhnya kesepakatan gencatan senjata terkait kondisi di Selat Hormuz. Dia menyoroti masih minimnya kapal tanker pembawa pasokan minyak yang diizinkan melintasi selat tersebut.
“Itu bukan kesepakatan yang kita miliki!” tulis Trump lewat akun Social Truth miliknya pada Kamis (9/4/2026) malam.
Dalam 24 jam pertama gencatan senjata, yang diumumkan Trump pada Selasa lalu, hanya terdapat satu kapal tanker dan lima kapal pengangkut barang curah kering yang berlayar melalui Selat Hormuz. Sebelum pecahnya perang, seperlima aliran minyak dan gas alam cair dunia serta 140 kapal melintasi selat tersebut setiap harinya. [mjr/rep]






