PADANG -- Sejumlah daerah di Sumatra Barat masih tergenang banjir hingga Ahad (4/11), setelah hujan deras mengguyur wilayah ini sejak Jumat (2/11) lalu. Daerah yang dilaporkan masih dilanda banjir adalah Kabupaten Solok dan Limapuluh Kota. Sedangkan banjir yang sempat melanda Kota Padang kemarin lusa, kini dilaporkan surut.

Di Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, banjir merendam ratusan rumah yang dihuni 275 kepala keluarga (KK) pada Ahad (4/11) pagi. Intensitas hujan yang masih tinggi hingga pagi tadi membuat Sungai Batang Lembang meluap. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Solok mencatat, Sungai Batang Lembang mulai meluap sejak Ahad (4/11) pagi dan menggenangi dua nagari di kabupaten itu.

Selain banjir, hujan di Sumatra Barat juga menyebabkan tanah longsor di sejumlah titik, seperti di Nagari Koto Sani Kecamatan X Koto Singkarak. Tanah longsor yang disertai banjir bandang membuat permukiman warga dipenuhi material lumpur dan potongan kayu.

Di Kabupaten Limapuluh Kota, banjir dengan ketinggian air 80 cm hingga 1,5 meter menggenangi rumah-rumah warga di sekitar Sungai Batang Sinamar dan Batang Maek. Ketinggian air justru meningkat pada Ahad (4/11) seiring curah hujan yang masih tinggi. Banjir paling parah terjadi di Jorong Subarang Nagari Taram, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota.

Bencana banjir di Limapuluh Kota membuat sedikitnya 200 keluarga harus mengungsi ke tempat yang aman dari banjir.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sumbar, Rumainur, mengatakan bahwa pihaknya terus memonitor penanganan banjir di sejumlah daerah. Kondisi terkini pada Ahad (4/11) sore, ketinggian air di sejumlah daerah banjir sudah jauh berkurang. Meski begitu, pihaknya tetap mengimbau masyarakat tetap waspada dan melakukan ronda malam untuk berjaga-jaga terhadap ancaman banjir.

"Kita masih siaga banjir. Apalagi curah hujan masih tinggi dalam beberapa hari ke depan. Kami minta masyarakat tetap waspada dengan banjir dan tanah longsor," kata Rumainur, Ahad (4/11).

Ia menyebutkan bahwa nyaris seluruh wilayah di Sumatra Barat tak lepas dari status 'rawan banjir'. BPBD, lanjutnya, mendesak masing-masing pemda untuk lebih ketat dalam memberikan izin pemanfaatan hasil hutan di wilayah hulu sungai. Ia juga meminta pimpinan daerah secara berkala mengecek kondisi hulu sungai, terutama adanya aktivitas pembukaan lahan secara ilegal.

"Termasuk cek juga adanya penumpukan bekas tebangan yang menyebabkan timbunan di sungai. Dan kepada masyarakat, biasanya banjir di lokasi yang sama. Waspada kalau hujan malam bergantian jaga ronda," ujar Rumainur.

Gubernur Sumatra Barat juga akan menerbitkan surat imbauan kepada seluruh pimpinan daerah di 19 kabupaten/kota untuk memperketat pengawasan di hulu sungai. Menurutnya, Pemprov Sumbar bersama seluruh pemda akan menyiagakan 'alarm' siaga banjir hingga Januari-Februari tahun depan, seiring berakhirnya musim hujan.

"Sepanjang musim hujan ini kita tingkatkan kewaspadaan kita," katanya. [dn/rep]