YOGYAKARTA -- Kasus penyebaran berita hoaks penculikan anak yang mendera kaum ibu, marak menjadi perbincangan. Tanpa mengurangi kewaspadaan, kaum ibu diminta bijak menggunakan ponselnya, termasuk saat menerima beragam informasi.

Tidak ada yang salah dari waspada. Tapi, kasus penyebaran berita hoaks tentang penculikan anak di Tangerang Selatan belakangan ini yang menyeret sejumlah ibu sebagai tersangka harus jadi pelajaran seluruh ibu di Indonesia.

Utamanya, mereka yang terbiasa berselancar informasi dari media-media sosial melalui ponsel-ponsep pintarnya. Sebab, jika tidak hati-hati, informasi yang salah dan mereka sebarkan akan jadi bumerang bagi penyebarnya.

Kabid Humas Polda DIY, AKBP Yulianto mengingatkan, jangan mudah membagikan informasi-informasi yang kebenarannya belum bisa dipastikan. Apalagi, tentang kasus-kasus yang bisa merugikan orang lain.

Sebagai pengguna media sosial, misalnya, tentu bisa dipahami kekhawatiran kaum ibu saat mendapat informasi penculikan anak. Tapi, jika informasi yang didapat belum terverifikasi, kaum ibu diminta lebih bijak menanggapinya.

"Jangan sampai justru jadi penyebar berita hoaks, sebab penyebar berita bohong ada ancaman (hukuman) sendiri," kata Yulianto, yang ditemui di sela-sela media tour Polda DIY, Ahad (3/11).

Ia mengungkapkan, untuk DIY tahun lalu sempat marah isu-isu tentang penculikan anak. Namun, setelah dicek ke lapangan, informasi-informasi itu tidak jelas sumbernya dan kejadiannya malah tidak ada.

Sejauh ini, belum ada kejadian-kejadian terkait penculikan anak di DIY. Untuk itu, tanpa mengurangi kewaspadaan sebagai orang tua, kaum ibu utamanya diminta tidak perlu panik jika menerima informasi-informasi apapun.

Yulianto menilai, kekhawatiran berlebih yang tidak mampu ditangani orang tua salah-salah bisa membuat mereka tidak bijak bersikap maupun bertindak. Tidak terkecuali, anak-anak yang harus dibiasakan bijak menerima informasi.

"Jangan sampai gampang curiga, sehingga ada orang yang mungkin hanya ingin bertanya, asing, dianggap mau menculik, ada beberapa seperti itu," ujar Yuli.

Terpisah, Pemkot Yogyakarta menggandeng Gabungan Organisasi Wanita (GOW) menggelar seminar Mencerdaskan Perempuan Melalui Teknologi Informasi. Kegiatan itu memberikan pengetahuan kaum ibu agar memanfaatkan ponsel secara cerdas.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMPPA) Kota Yogyakarta, Octo Noor Arafat mengatakan, kaum ibu harus bisa memanfaatkan ponsel untuk memaksimalkan peran mereka.

Termasuk, lanjut Octo, dalam membuat hidup jauh lebih produktif. Salah satunya dengan memanfaatkan ponsel pintar sebagai sarana bisnis seperti berdagang atau media promosi produk-produk yang mereka miliki.

Dengan begitu, pemanfaatan ponsel pintar akan lebih maksimal dan lebih berguna bagi dirinya dan keluarga. Ia berharap, kaum ibu bisa memperhatikan sekaligus menggunakan ponsel mereka sesuai waktu yang dibutuhkan.

"Kecanggihan smart phone sering membuat kita menjadi terlalu dekat dan fokus dengan ponsel, sehingga melupakan orang-orang yang ada di sekitar kita," kata Octo.

Untuk itu, orang tua harus bisa menghindari terlalu asik bermain ponsel sampai mengabaikan momen kebersamaan. Hal senada disampaikan Kepala Bidang Teknologi Informatika Dinas Komunikasi dan Persandian Kota Yogyakarta.

Menanggulangi, Suciati mengaku telah mempersiapkan aplikasi berbasis ponsel pintar yang bisa digunakan untuk membantu kaum ibu memasarkan produk. Dodolan, jadi salah satu layanan yang ada di Jogja Smart Service (JSS).

Selain itu, ada layanan Nglarisi dari aplikasi yang sama. Tambahan dua layanan ini akan diluncurkan akhir tahun ini. Melalui itu semua, kaum ibu diberikan kemudahan menawarkan berbagai produksinya.

Terlebih, bagi UMKM, salah satu masalah terbesar tidak lain promosi yang harus dilakukan secara mandiri. Melalui ini, cukup dengan nomor induk kependudukan, kaum ibu sudah bisa mendaftar sebagai UMKM Kota Yogyakarta.

"Layanan ini mirip layanan jual beli online yang ada saat ini, pembayaran pun bisa dilakukan secara tunai melalui bayar di tempat atau cash on delivery atau transfer," ujar Suciati.

Melalui berbagai kesibukan positif itu, penggunaan ponsel pintar oleh kaum ibu diharap bisa lebih bermanfaat. Artinya, tidak lagi sekadar berbagi informasi, kaum ibu bisa lebih meningkatkan kualitas peran dan produktivitas mereka. [slm/rep]