JAKARTA -- Konsentrasi karbon dioksida (CO2) di atmosfer Bumi telah mencapai titik tertinggi barunya. Oleh karena itu, PBB memperingatkan tindakan cepat diperlukan untuk mencapai target yang ditetapkan oleh kesepakatan iklim Paris.

''Konsentrasi karbon dioksida di atmosfer melonjak pada kecepatan memecahkan rekor pada tahun 2016, dalam 800 ribu tahun,'' kata Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), dikutip dari The Guardian, Senin (30/10).

Konsentrasi global rata-rata CO2 mencapai 403,3 ppm (part per million) pada tahun 2016, naik dari pukul 400.00 ppm pada tahun 2015. Peningkatan tersebut dikarenakan kombinasi aktivitas manusia dan peristiwa El Nio yang kuat.

Kepala WMO Petteri Taalas menyatakan, tanpa pengurangan CO2 yang cepat dan emisi gas rumah kaca lainnya, Bumi akan menghadapi kenaikan suhu yang berbahaya pada akhir abad ini. ''Jauh di atas target yang ditetapkan oleh kesepakatan perubahan iklim di Paris,'' ucapnya.

Hanya saja, kesepakatan bersejarah yang disetujui oleh 196 negara dua tahun lalu ini menghadapi tekanan baru, menyusul keputusan Presiden AS Donald Trump untuk membatalkan kesepakatan tersebut. Namun, negara-negara bersiap untuk melanjutkan tugasnya dalam perundingan iklim di Bonn, Jerman, pekan depan.

The Greenhouse Gas Bulletin, laporan utama tahunan badan cuaca PBB, melacak kandungan gas berbahaya di atmosfer pada era pasca-industri (sejak 1750). Laporan tersebut juga mengatakan bahwa saat terakhir Bumi mengalami tingkat konsentrasi CO2 yang serupa adalah tiga sampai lima juta tahun yang lalu, ketika permukaan laut mencapai 20 meter lebih tinggi dari sekarang.

Dave Reay, profesor manajemen karbon di University of Edinburgh, mengatakan, seharusnya masalahan menjadi peringatan bagi para pemimpin. Sebab, seiring dengan meningkatnya perubahan iklim, kemampuan lahan dan samudra untuk mengolah emisi karbon Bumi akan melemah.

Meski demikian, ia menilai masih ada waktu untuk mengendalikan emisi ini dan tetap memegang kendali. ''Tapi jika kita menunggu terlalu lama, manusia akan menjadi penumpang di jalan satu arah menuju perubahan iklim yang berbahaya,'' tegas dia.

kepala Lingkungan PBB Erik Solheim mengimbau, apa yang dibutuhkan sekarang adalah kemauan politik global dan perasaan baru yang mendesak. [sl/rep]