SLEMAN -- Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) kembali mendapat pujian. Kali ini, pujian datang dari pengajar-pengajar di SD Muhammadiyah Mantaran, yang merasa sistem yang ada justru mampu meningkatkan adrenalin dalam mengajar.

Wali Kelas 2 SD Muhammadiyah Mantaran, Herry Purwanto mengatakan, setiap anak memiliki tipikal masing-masing dalam memahami materi. Setelah jam istirahat misalnya, konsentrasi anak-anak tentu sudah hilang karena lelah, lapar atau capek.

Untuk itu, ia merasa, sebagai pengajar guru itu harus mampu mengkombinasikan model-model pembelajaran dalam mengajar. Menurut Herry, tujuannya tidak lain agar pengajaran yang ada dapat membuat siswa betah mengikutinya

"Sebagai guru harus selalu siap dan sigap, kita harus selalu memfasilitasi apa yang diminta anak dalam pembelajaran," kata Herry, Selasa (20/2).

Selain itu, guru harus bisa mengkondisikan situasi kelas agar anak-anak fokus belajar, dan mampu menghadirkan inovasi baru dalam mengajar. Ia melihat, GSM bisa menghadirkan beberapa solusi dalam pembelajaran dan pengelolaan kelas supaya menarik.

SD Muhammadiyah Mantaran sendiri merupakan salah satu sekolah model GSM, yang menerapkan pembelajaran menyenangkan dan bervariatif. Sejak bergabung dengan GSM, guru-guru merasa lebih tertantang menghadirkan metode dan strategi agar semangat anak senantiasa terjaga.

"Saya selalu berpikir membuat model dan metode pembelajaran yang menarik, mereka akan bersemangat ketika metode yang saya gunakan selalu berganti," ujar Herry.

Senada, Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Mantaran, Khoiry Nuria menilai, kondisi itu yang membuat adrenalin guru dalam menerapkan metode dan strategi pembelajaran yang membuat anak lebih bersemangat. Ia merasa, suasana itu membuat anak lebih mudah menerima materi.

"Guru yang sukses mengajar adalah yang mampu membuat anak itu bahagia mengikuti proses pembelajaran setiap harinya, merasa tidak bosan, merasa kangen dengan pelajarannya," kata Nuri.

Ia meyakini, GSM mampu membuat guru berpikir maju dan kreatif dalam pembelajaran, dan bisa memfasilitasi anak-anak agar lebih semangat dan berprestasi. Menurut Nuri, menjadi guru kreatif akan mendorong perwujudan produk pendidikan yang berkualitas.[dn/rep]